FHUI, With Love.

11:42:00 PM

Hi!
It's been a hell of a break... I miss blogging so much. Sorry for taking such a long hiatus for those of you who might have lingered on my blog waiting for a new post:') I'm really sorry. College has been hectic yet so fun that I found myself in need of time to relax and write. Now is probably the most appropriate time to do it.

I want this post to be a mix of Bahasa Indonesia and English because I can't really put my tremendous gratitude in Bahasa Indonesia because it will sound so weird and kacangan. Anyway, this blog post is dedicated to my beloved faculty and the people in it who had served massive contributions in making me a better person, a richer person in term of gaining new knowledge.

Jadi, setelah ospek waktu itu, ada pembukaan audisi untuk mencari kontingen FHUI untuk diadu di ajang UI Art War dan Olim UI. Karena percaya diri akan kemampuan vokal dan bahasa, akhirnya daftar untuk jadi kontingen vokal dan cerpen. Tau-tau diaudisinya cuma yang untuk vokal. Sebenarnya enggak berharap banyak akan hasil soalnya aku sendiri paham kalau FHUI ini sumber daya manusianya sangat berkualitas dan aku sendiri hanya serpihan debu:') Setelah audisi pertama dipanggillah untuk audisi kedua. Kemudian menunggu beberapa hari--cukup lama--lalu mendapat kabar ternyata diterima sebagai kontingen musikologi dengan posisi sebagai salah satu vokalis.

KONTINGEN UI ART WAR FHUI
Oh iya, sebelum lanjut mengawali cerita ini, musikologi adalah pemusik untuk mengiringi dan memberikan sound effect dalam pertunjukan teater. Terkhusus di FHUI, musikologi wajib membuat lagu tema atau Original Soundtrack untuk teaternya. Setiap tahun pasti ada lagu baru yang diproduksi musikologi yang kemudian akan diingat anak-anak FHUI.

Oke, lanjut bercerita... Dikumpulkanlah kami berenam di ruangan BEM untuk latihan pertama kalinya. Aku pribadi cuma kenal dua di antara enam kontingen musikologi lainnya. Itupun sekedar kenal karena sekelas setiap hari. Dua dari sisanya anak reguler dan satu lagi anak paralel yang sejujurnya tidak pernah ketemu dan berpapasan.

MUSIKOLOGI 2016
Awalnya sangat canggung berkumpul dan berkenalan sama orang-orang ini. Ada rasa takut juga gimana nantinya kami bakal bekerja sama dan menciptakan sebuah lagu. Apakah bakal penuh emosi, tawa, atau perasaan-perasaan lainnya... Intinya, awalnya aku tidak berekspektasi apapun dan hanya ingin semua berjalan lancar dan baik. Kami latihan, menata jadwal, agenda, materi, dan sebagainya. Biasalah... Pertemuan pertama selalu tentang introduction.

Datanglah pertemuan kedua, ketiga, keempat, sampai pertemuan-pertemuan yang selanjutnya tidak terhitung lagi karena hampir setiap hari kami bertemu. Ternyata, perasaan dan atmosfer latihan semakin hari semakin asyik. Semakin hari semakin terasa kekeluargaan dan persahabatan baik di antara kami, para kontingen, maupun abang dan mbak pelatih serta penanggungjawab kami. Sebenarnya cukup aneh kalau dipikir-pikir kenapa kami bisa langsung sekompak itu hanya dalam kurun waktu satu bulan. Yang ada di pikiran kami, sebelum hal-hal lain mengusik, adalah berlatih, bersenang-senang, dan membuat lagu.

Sampai di mana masa-masa jenuh melanda. Aku percaya setiap proses menuju ke sesuatu yang masif pasti menimbulkan efek jenuh. Ada kalanya seseorang perlu rehat sejenak dari rutinitas untuk mengembalikan esensi dari kegiatannya. Karena aku percaya sesuatu yang berulang-ulang akan kehilangan makna dan satu-satunya yang dapat dilakukan untuk tetap memaknai sebuah 'pengulangan' adalah dengan rehat sejenak. Aku adalah korban dari kejenuhan itu. Sampai pada titik di mana aku tidak mampu memberikan ide yang luar biasa untuk musikologi, aku pun memutuskan untuk tidak datang latihan. Kebetulan juga saat itu mentorku, Mbak Angel, sakit DBD. Ada kesempatan untuk sejenak menjauh dari rutinitas latihan yang meskipun semakin asyik juga semakin pressuring. Aku memutuskan untuk menjenguk mentor bersama Bang Avo, mentorku juga, dan teman-teman satu grup ospek.

Sebenernya, sakit bukanlah sesuatu yang harus disyukuri tapi dihadapi dengan sabar. Tapi, kali ini aku sedikit bersyukur aku bisa menggunakan alasan seseorang sakit untuk lari sejenak dari latihan yang membuatku jenuh dan buntu. Dan saat ini, saat memikirkan keputusan itu lagi, aku semakin sadar bahwa keputusanku itu adalah pilihan terbaik...walaupun membuahkan tensi yang luar biasa di dalam ruang latihan di hari-hari berikutnya, di hari-hari mendekati hari tampil.

Di rumah Mbak Angel, semua bercerita. Kebiasaan lama bersama mereka adalah bercerita. Mencurahkan isi hati. Tapi, kali ini aku lebih banyak diam. Lebih banyak bercanda dan tertawa akan kekonyolan teman-temanku. Lebih banyak mendengar, lebih banyak memerhatikan karena itu saja membuat kejenuhanku perlahan hilang dan perlahan reda. Dan mentorku, sebelumnya aku percaya aku pernah mengklaim bahwa mereka adalah mentor terbaik yang pernah dianugerahkan Tuhan padaku, memang pernyataan itu tidak salah. Mereka memang mentor terbaik. Seperti masa-masa mentoring ospek, mereka hadir memberikan wejangan-wejangan pendewasaan tentang keputusan, memilih sesuatu, prioritas, lalu kembali ke topik-topik ringan perihal "Siapa nih, yang lagi diincar sekarang?", "Ada yang menarik, gak?", "Ada kabar apa kalian?" dan hal-hal lucu lainnya yang berhasil membuat bebanku sedikit lebih ringan, kejenuhanku sedikit pudar. Kami berfoto seperti biasa, bercanda, bahkan yaaa mengulang kebiasaan lama, aku kembali kucing-kucingan dengan Bang Avo karena pada dasarnya memang dia semenyebalkan tapi sebaik itu... Kemudian, kami pulang karena malam juga semakin gelap. Setelah bertukar cerita dan masalah, menertawai kebodohan dan kekonyolan satu sama lain, kami memutuskan untuk pulang.

Di perjalanan pulang kembali ke kostan, aku membuka semua masalahku kepada kedua temanku. Membeberkan bahwa aku capek pulang malam latihan, berpikir, membuat lagu. Namun, di waktu yang sama ada satu fakultas dan sekelompok orang yang sudah melepaskanku sebagai kontingen yang mewakili mereka dalam ajang lomba. Ada tantangan yang harus kujawab dan ada nama yang harus kuharumkan. Semua kuceritakan. Aku jenuh. Aku capek. Aku butuh rehat. Aku butuh jauh sementara. Aku ingin menangis. Aku terbebani. Aku deg-degan. Aku takut mengecewakan. Aku takut tidak bertanggung jawab. Sekali lagi, semua kuceritakan. Mereka mengerti. Aku mengerti bahwa teman-temanku ini memang orang-orang yang diletakkan Tuhan di hidupku untuk benar-benar menjadi seorang teman. Dan aku bersyukur. Aku juga berterima kasih.

video 

Selain rehat itu, ada pula selingan job yang kuambil semasa berlatih. Pergi mengisi acara inaugurasi mahasiswa S2, mengisi acara ALSA Carreer Talkshow yang meskipun tidak jadi tapi tetap menjadi salah satu pelarian yang menyenangkan, mengisi acara Dies Natalis FHUI ke-92 bersama mbak-mbak dan abang yang luar biasa. Pelarian-pelarian kecil yang semakin menambah rasa untuk pengalaman menyenangkan ini. Aku memang saat itu sebutuh itu dengan pelarian dari rasa jenuh karena sejujurnya pada masa itu, ruangan BEM tempat kami berlatih tidak lagi menyediakan rasa senang dan atmosfer mengasyikkan yang di awal tadi kurasakan. Semua lebih mengedepankan pressure. Harus jadi, harus ada progres, harus maju, harus serius, harus, harus, dan harus. Sampai tidak ada lagi yang namanya waktu untuk santai dan mencari inspirasi. Semua bergerak hampir dibawah keharusan dan pressure, dan aku tidak menemukan kalimat lain yang tepat untuk mendeskripsikan perasaanku waktu itu.

Hingga sehari setelah rehatku, pada saat berdoa sebelum pulang, di sebelah Wakil Ketua BEM FHUI 2016, Bang Rifqi, aku menangis mengekspresikan emosi yang biasanya tidak kuperlihatkan selama bersikap profesional. Bagiku, emosi pribadi adalah keegoisan yang paling nyata yang seharusnya tidak kubawa dalam mengemban tanggung jawab dan bersikap profesional. Harusnya tangisanku menjadi konsumsi pribadi di kamar kostan setelah latihan, bukan pada saat sedang menjalankan kewajiban dan keharusan. Namun, aku sejenuh itu dan hal yang paling cocok adalah mengungkapkannya dengan airmata selain dengan kata-kata. Tapi, ada satu yang dikatakan Bang Rifqi soal masa-masa latihan ini, bahwa seni itu adalah semua hal tentang senang-senang. Seharusnya aku berbahagia dalam berekspresi lewat seni, bukan tertekan. Aku setuju. Kemudian, ia kembali menyemangati seperti abang dan mbak lainnya. Dan aku tahu perkataannya bukan hanya untuk menyenangkan hati yang sedang menanggung beban ini, tapi karena ia juga seorang kontingen, aku tahu kami pasti merasakan beban yang sama.

Pada latihan-latihan berikutnya, senior semakin banyak yang menonton. Semakin banyak pula yang memberikan masukan dan koreksian. Semakin banyak pula yang memberikan semangat dan berbagi pengalaman. Semakin banyak juga dari mereka yang menyuntikkan kata-kata penuh arti yang selalu kurenungi setiap malam agar aku tidak kembali terlempar pada titik jenuhku. Semakin banyak pula cinta dan semangat yang kudapatkan dari hari ke hari menuju penampilan kami. Di sinilah aku belajar untuk menghargai diri sendiri dan orang lain. Di masa-masa ini juga aku belajar untuk tidak mudah menyerah, bahwa sesuatu yang luar biasa butuh proses dan tidak mudah. Bersama orang-orang inilah aku memahami maknanya kerja sama dan kerja keras.

Sampailah pada masa H-1 dan hari H tampil. Kami, para kontingen, dikarantina di apartemen selama menjelang tampil dan gladi resik. Semua sudah dipersiapkan sematang mungkin. Proses pun sudah bergulir dan semakin dekat dengan hasil. Pukul 4 pagi, dua hari sebelum hari H, kami baru pulang berlatih dan aku terpaksa menumpang tidur di apartemen salah satu senior penanggung jawab kami. Perjuangan ini memang seberat itu. Tapi, setelah berbagai macam masukan dan evaluasi-evaluasi, aku tahu bahwa ini bukan sekedar mencapai sebuah keharusan dan menjalankan sebuah kewajiban. Ini tentang rasa kepercayaan, rasa bangga, dan harapan yang digantungkan satu fakultas pada bahu kami. Ini tentang menghargai kemampuan diri sendiri dan menikmati proses. Aku akhirnya siap untuk tampil, siap untuk memberikan yang terbaik apapun yang akan terjadi. Aku siap untuk menjemput hasil yang sudah tentu tidak akan menghianati proses yang telah kami lewati.

 Kami tampil. Akhirnya...

Sebelumnya aku sudah meminta mentor-mentorku dan teman-teman dekatku menonton meskipun aku tahu mereka punya acara masing-masing. Sampai saat aku sudah berada di panggung, aku belum melihat mereka ada di kursi penonton. Kecewa? Iya. Bahkan menurutku momen saat aku sadar bahwa mereka tidak ada di antara penonton menjadi momen paling menyedihkan sepanjang perkuliahan ini. Tapi, saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk bersedih. Aku harus fokus. Ini bukan hanya soal ingin ditonton dan dilihat oleh mereka, tapi ada orang-orang lain, Ketua dan Wakil Ketua BEM FHUI, KOSTRAT FHUI, teman-teman lain yang hadir di bangku penonton untuk kami hibur dan kami banggakan. Akhirnya, aku merasa sudahlah... Mungkin memang sibuk dan kondisi saat itu juga hujan. Aku mengerti.

Seusai tampil, kami keluar dengan wajah penuh ekspresi. Aku marah. Ada salah satu not yang fals di akhir nyanyianku. Tapi, orang-orang bilang itu tidak terdengar begitu signifikan. Aku mendengarnya dan aku menyesal. Namun, yang terjadi ya tidak bisa diubah. Sampai detik ini aku merasa itulah kesalahan paling fatal yang sudah kulakukan.

Di luar auditorium tempat kami berpentas, aku melihat teman-temanku dan Mbak Angel. Reflek aku memeluk mereka. Mereka meminta maaf sudah telat. Berlari-lari menembus hujan untuk segera menontonku, ternyata pintu auditorium sudah ditutup. Sebenarnya tidak apa-apa. Aku cukup bahagia mereka ada di balik pintu, menunggu selesai, menunggu sampai aku keluar. Apresiasi dan pengorbanan mereka luar biasa. Kemudian aku melihat Bang Avo. Sedikit kaget dia benar-benar datang. Padahal, biasanya kami tidak pernah akur. Hahaha... Kami berfoto.
TEATER MERAH FHUI

Kontingen diberikan bunga, berfoto dengan masing-masing peer group-nya, mengungkapkan perasaan lega dan bahagia pada abang dan mbak pembimbing. Kami berfoto, menjajah lahan jalan orang-orang, mengungkapkan kepuasan meskipun aku masih menyesali kesalahanku. Di sinilah aku belajar untuk ikhlas dan menerima apa yang sudah terjadi. Bukan waktunya lagi merasakan kecewa dan sebagainya. Ini adalah waktunya beristirahat dengan benar dan menghargai usaha dan kerja keras diri sendiri.

Sepulang dari penampilan dan selepas evaluasi, aku membuka LINE dari laptop karena bodohnya handphone-ku tertinggal di mobil temanku. Ada begitu banyak pesan berisi semangat dan doa dari berbagai teman. Yang paling mengejutkan adalah pesan dari Bang Avo. Tumben, hahaha... Tapi, aku cukup bersyukur orang-orang yang di sekitarku benar-benar sepeduli itu terlepas mereka tulus atau tidak. Aku cukup bersyukur mereka ada dan mau memberikan semangat sebesar itu padaku dan pada kontingen-kontingen lain.

Kini, di antara kesibukan menulis esai mata kuliah Manusia dan Masyarakat Indonesia, aku ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada orang-orang yang baik langsung maupun tidak langsung telah berperan dalam menyukseskan teater dan musikologi tahun ini sehingga Teater Merah FHUI kali ini dapat beraksi dengan gagah di atas panggung. Pertama, terima kasih untuk Ketua Kontingen, Bang Johan, yang dari awal sudah mempercayai aku dan teman-teman untuk mengemban tanggung jawab ini dan mengeksekusinya. Terima kasih untuk Departemen Seni Budaya BEM FHUI, Bang Fardan dan jajarannya, yang udah sangat getol menyemangati dan menemani latihan-latihan kami, tidak lupa menyediakan fasilitas terbaik bagi para kontingen untuk berkarya. Terima kasih untuk Mbak Asjo dan Mbak Panca yang sudah mengiringi jalannya proses latihan musikologi baik dari awal maupun tengah-tengah proses sampai tampil kemarin. Terima kasih untuk Mbak Debby, Mbak Naomi, dan Mbak Irin yang sudah menjadi kakak-kakak khas batakku, yang selalu memberikan semangat. Terima kasih Bang Peter yang sudah menjadi tutor kilatku ketika latihan sehari sebelum UTS Pengantar Ilmu Hukum. Terima kasih Bang Endy atas panggilan 'Bayi Bedong' atau 'Wrap Baby' yang jadi nama khasku sepanjang proses teater dan musikologi berlangsung. Terima kasih Bang Acus yang sungguh baik, perhatian, lucu, menggemaskan, yang pada saat aku fals benar-benar bilang jujur ke aku kalo aku fals biar aku ga semakin sumbang. Terima kasih Mbak Syera yang jadi bagian dari proses pelarianku untuk mengisi Dies Natalis, percayalah Director Executive Lawper emang pantas dibilang jayus. Terima kasih Mbak Dem yang sudah menuliskan naskah cerita dan membantuku make-up sebelum tampil. Terima kasih Mbak Yohanna yang sudah sangat profesional menggambar alisku sebelum tampil. Terima kasih Bang Aim, Bang Edo, Mbak Petty, dan senior-senior teater yang sungguh super sekali dalam membimbing, mengkritik, dan memberikan evaluasi. Aku tahu meskipun pedas-pedas, tapi itu yang paling efektif untuk memberikan perubahan dan perkembangan yang signifikan. Terima kasih Bang Taufik untuk klaim yang bilang aku mirip Mbak Ucul. Alhamdulillah dirimu sudah alumni... Aku jadi enggak enak buat ngambek.. Terima kasih Mbak Hexa, perempuan tangguh yang mengetuai BEM FHUI tahun ini, untuk kehadirannya di BEM untuk mendengar lagu OST kami. Terima kasih Bang Rifqi dan Bang Tieto untuk kata-kata bijaknya yang bikin hari-hari mendekati penampilan kami, terutama aku, menjadi penuh dengan motivasi. Your words were some of those which I repeated to myself over and over again until I forgot that I was saturated. Terima kasih Inara, Winny, Rahma, dan Anggita yang malem-malem membaca curhatanku di conference chat, mendengarkanku berkoar-koar tentang betapa lelahnya latihan dan pulang malam setiap hari. Semangat Inara! Tanggal 19 November 2016 nanti waktunya beraksi, kontingen atletik! Terima kasih Mbak Angel karena sakitmu aku bisa rehat sejenak. Terima kasih juga udah mau tetap membalas line-ku di antara masa-masa istirahat sakitnya. Terima kasih Bang Avo udah mau (gagal) mengisi acara ALSA Carreer Talkshow waktu itu, at least gua membuat lu mahir memainkan keyboard. Terima kasih udah memberikan wejangan dan sharing-nya. Terima kasih juga sudah jadi bagian yang bisa gua jadikan pelarian semasa gua jenuh. Terima kasih Petrus dan Arai yang juga udah nonton dan tidak dikunciin di luar auditorium. Terima kasih Ocin, Gerlien, Rama, dan Thasia yang setiap hari gak bosen-bosen ketemu Yasmin hanya untuk bikin lagu. Kalian luar biasa. Terima kasih Awan yang sudah menjadi bagian dari musikologi sampai akhirnya karena satu dan lain hal harus di-cut off, kita tetap menghargai kontribusi lu, kok. Terima kasih anak-anak teater Anisa, Agit, Aisyah, Bare, Choir, Davi, Syafrie, dan Tyo. Kalian bikin panggung Gedung IX FIB UI Sabtu lalu gemetar sama talenta kalian. Gua bangga banget bisa nonton kalian paling depan kemarin dan nangis selama monolog. Bangga banget. Kalian luar biasa. Terima kasih yang gak berujung aku ucapkan untuk seluruh Kostrat FHUI yang hadir nonton dan mendukung, sesama kontingen lain yang sudah dan masih berjuang, FHUI yang benar-benar aku sayangi dan cintai. Because of you I'm an experience richer than I was.

I may have problems expressing myself through speaking, but I hope these few words won't fail to showcase my gratitude towards all your presence. I now understand the meaning of the word family. It isn't always defined as a father, a mother, a brother, or a sister at home. It can be people that are put in a room to compose an original song. It can be people who are studying law in one faculty who give massive support to each other. Family has widen its definition. It is not just those who are blood-related but can be those whom I give the chance to surround myself with. Family can be the person I spent a month with, dealing with my moods, my hyperactive being, and sometimes too emotional self. I also have understood the concept of hard work and team work. Hard work really does compliment one's talent. Team work is needed in achieving something great, something massive, something wonderful. I also learned about respecting each other and accepting people the way they are. I learned to love myself and love others as dearly and deeply. I learned to thank people more often, say sorry more often, and most importantly keep my promises to people. I learned so much within just a month. I have never felt so lucky and grateful to gain such a beautiful experience. I now strongly believe that a process matters and it is what defines what kind of result one is hoping for. Thank you for the experience, the love, the dedication, the support. I love you guys to the core of my heart:)

FROM: Yasmin Amira Hanan
FOR: Fakultas Hukum Universitas Indonesia
WITH: love.

You Might Also Like

0 comments